Dilaporkannya Hanung Bramantyo, sutradara film “Soekarno : Indonesia Merdeka” oleh Rachmawati Soekarnoputri
Hanung Bramantyo, sutradara film "Soekarno : Indonesia Merdeka" dilaporkan ke Polda Metro Jaya, Senin 23 September 2013 dengan dugaan
pencemaran nama baik terhadap Rachmawati Soekarnoputri.
Dalam laporan bernomor 3315/IX/2013/PMJ- Ditreskrimum tertanggal 23 September 2013, tertera pelapor yakni Muannas Alaidid dan terlapornya adalah Hanung Bramantyo.
Sebelum memutuskan melapor ke pihak berwajib, pihak Rachmawati telah memberikan peringatan pada Hanung untuk meminta maaf secara lisan. Serta menarik ucapannya di media yang menyebutkan kisruh yang dimunculkan pada film Soekarno sengaja dibuat-buat untuk mencari popularitas
Kemudian saat ditanya mengenai barang bukti yang turut disertakan saat membuat laporan, Ramdan menjawab pihaknya membawa serta bukti tertulis berupa ucapan Hanung yang pernah dimuat oleh beberapa media.
Melalui kuasa hukum Rachmawati, Ramdan juga mengutarakan jika ide awal pembuatan film tersebut sebenarnya berasal dari Rachmawati bahkan dalam proses produksinya pihak pelapor siap menanggung ongkos produksinya. Tapi Hanung mengusulkannya untuk diproses ke dalam sebuah rumah produksi.
Bentuk-bentuk konflik
Berdasarkan sifatnya
Konflik destruktif, pada konflik ini muncul karena adanya perasaan tidak senang, rasa benci,dan dendam. Dalam konflik ini pihak Rachmawati Soekarnoputri tidak terima dengan pernyataan Hanung Bramantyo yang mengatakan bahwa kisruh film “Soekarno” sengaja dibuat-buat untuk mencari popularitas.
Berdasarkan posisi pelaku yang berkonflik
Konflik horizontal, karena terjadi antara individu yang memiliki kedudukan relatif sama.
Hanung Bramantyo adalah seorang sutradara dan Rachmawati adalah seorang anak dari tokoh proklamator Soekarno, sehingga keduanya sama-sama memiliki hak atau kepentingan yang sama.
Berdasarkan sifat pelaku yang berkonflik
Konflik terbuka, karena konflik ini diketahui oleh semua pihak, baik pihak Hanung, Rachmawati, maupun masyarakat. Berita tersebut tersebar melalui media cetak maupun media elektronik, sehingga semua pihak dapat mengetahui konflik tersebut.
Berdasarkan konsentrasi aktivitas manusia didalam masyarakat
Konflik ideologi, karena konflik ini terjadi akibat adanya perbedaan paham atau pendapat. Pihak Rachmawati tidak menyetujui jika film “Soekarno diperankan oleh Ario Bayu, sedangkan pihak Hanung memilih Ario Bayu dengan pertimbangan dari segi komersil.
Berdasarkan cara pengelolaannya
Konflik antarindividu, konflik ini terjadi antara Hanung dengan Rachmawati karena perbedaan gagasan, pendapat, kepentingan, menyangkut perbedaan selera. Rachmawati lebih memilih Anjasmara yang memerankan Soekarno daripada Ario Bayu.
Faktor penyebab konflik
Konflik ini terjadi karena adanya perbedaan pendapat antara sutradara film, Hanung Bramantyo dengan Rachmawati Soekarnoputri. Konflik ini bermula ketika Rachmawati tidak menyetujui pemeran tokoh Soekarno diperankan oleh Ario Bayu, hal ini memunculkan perselisihan antara kedua belah pihak. Sehingga timbul pernyataan dari Hanung Bramantyo bahwa kisruh film ini semata-mata dibuat hanya untuk Bu Rachmawati mencari popularitas. Rachmawati langsung bertindak dengan melaporkan Hanung Bramantyo ke pihak berwajib atas dugaan pencemaran nama baik.
Dampak atau Akibat
Secara langsung, konflik ini menimbulkan keretakan hubungan antara pihak Hanung Bramantyo dengan pihak Rachmawati Soekarnoputri sehingga kejelasan apakah film ini tetap dilanjutkan atau tidak masih dipertanyakan.
Secara tidak langsung, konflik ini menurunkan sikap nasionalisme terhadap sejarah bangsa Indonesia karena film ini dibuat semata-mata hanya untuk kepentingan komersil, bukan untuk meningkatkan jiwa nasionalisme terhadap generasi muda.
Dampak positif, dengan adanya konflik ini masyarakat akan semakin penasaran dengan film garapan Hanung Bramantyo tersebut. Sehingga ada unsure-unsur mencari sensasi agar film ini laris di masyarakat.
Solusi
Konflik ini dapat diatasi dengan cara kolaborasi (kerja sama) atau pemecahan masalah. Pihak Hanung Bramantyo harus mempertimbangkan dan berkomunikasi dengan pihak Rachmawati agar tercapai kesepakatan bersama, sehingga tidak ada lagi perselisihan antara kedua belah pihak.
Bentuk pengendalian konflik tersebut dapat dilakukan dengan konversi yaitu dengan salah satu pihak bersedia mengalah dan mau menerima pendirian pihak lain.






0 comments:
Post a Comment